SEJARAH DESA

DESA KEBAGUSAN

        Desa sebagai cikal bakal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebar diseantero wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas – batas wilayah desa berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal – usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam era otonomi daerah seperti saat ini maka peran desa yang telah memiliki otonomi murni dari saat berdirinya diharapkan mampu untuk lebih meningkatkan peran dan potensinya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemampuan masyarakat desa. Upaya untuk lebih mendorong partisipasin masyarakat Desa Kebagusan dalam mewujudkan visi dan misi desa  perlu didukung dengan upaya mengenalkan dan membudidayakan sejarah dan asal – usul desa guna membentuk jatidiri masyarakat Desa Kebagusan sehingga dapat meningkatkan rasa cinta tanah tumpah darah, cinta tanah air dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Prestasi yang telah diraih dalam kejuaraan Desa Kebagusan adalah sebagai berikut  :

  1. Juara Har I : Lomba Karang Taruna Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 1986

 

Sosio Historis

                  Ada beberapa versi tentang legenda asal usul Desa Kebagusan :

Versi Pertama sekitar abad ke-17 kekuasaan Belanda yang semakin luas, salah satu wilayah yang ingin dikuasai adalah Kesultanan Banten yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Hasanudin. Salah satu keluarga Sultan Banten yang melakukan perlawanan terhadap Kolonial Belanda yaitu Pangeran Bagus Arya Dinureja.

Akhir dari perlawanan Pangeran Bagus Arya Dinureja sampailah ke wilayah Pemalang tepatnya di satu desa (sekarang Desa Kebagusan) sambil menyebarkan agama Islam.

Pada saat itu Desa Kebagusan masih berupa belantara, maka Pangeran Bagus Arya Dinureja mendirikan rumah sekaligus sebagai tempat mengaji, sehingga para santri datang ke rumah Pangeran Bagus Arya Dinureja untuk menimba ilmu agama. Karena terkenalnya Pangeran Bagus Arya Dinureja, maka tempat beliau tinggal disebut tempat Ky Bagus, dan pada akhirnya berkembang menjadi Kebagusan.

Sebagai bukti adalah, disamping ada kuburan Pangeran Bagus Arya Dinureja di Dukuh Kebagusan Desa Kebagusan, juga cikal bakal masjid tertua di wilayah Kebagusan, Sidokare, Kauman, Pesucen, dan Panjunan adalah Masjid Al-Ikhsan Kebagusan.

Versi kedua adalah, pada jaman kerajaan Majapahit, wilayah Pemalang termasuk dalam kekuasaan Majapahit, termasuk Desa Kebagusan.Saat itu masih hutan belantara, datanglah sepasang suami istri Mbah Gabung dan Nini Gabung ( Prajurit Majapahit ) yang akan ke Pajajaran,pasangan ini tidak punya keturunan dan menganggap Desa Kebagusan merupakan wilayah yang bagus untuk peristirahatan, dan akhirnya pasangan ini tinggal dan memberi nama dengan Kebagusan.

Sebagai bukti adalah dengan petilasan hutan yang sampai sekarang masih tumbuh sepasang pohon rengas di belakang Kantor Balai Desa Kebagusan dan dijadikan Pohon Tunggul Desa.

Versi ketiga adalah pada saat Kerajaan Pajang yaitu Pangeran Benowo berperang dengan Raden Haryo Jipang. Dengan naik kuda hitam kecoklatan Raden Haryo Jipang terkena tombak di perutnya hingga ususnya keluar dan dikalungkan. Dia berlari  sampai  ke   wilayah yang sekarang adalah Desa Kebagusan dengan kudanya dan berhenti di pekuburan Gebang.

Sebagai bukti di pekuburan Gebang (Dukuh Kebagusan) ada nisan dengan panjang empat ( 4 ) meter di bawah pohon anggrung, dan itu diyakini sebagai kuburan Raden Haryo Jipang.

Dari berbagai versi tentang legenda asal usul Desa Kebagusan, maka Desa Kebagusan sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, meskipun belum ada penelitian secara ilmiah.

Secara yuridis Desa Kebagusan ada bersamaan dengan kemerdekaan Negara Indonesia.